Esai-esai Personal untuk Memanjangkan Ingatan

“Mengapa harus menulis?”

“Ingatan manusia itu pendek, tulisan yang memanjangkannya”

Begitu biasanya saya memberikan jawaban sederhana tiap kali disodori pertanyaan tentang alasan utama mengapa harus menulis. Jawaban tersebut tidak berlaku untuk semua model tulisan. Itu adalah jawaban yang ditujukan untuk jenis tulisan tertentu, tidak semuanya.

Salah satu kaki saya berada di kampus. Tulisan-tulisan akademik menjadi salah satu kebutuhan yang mesti ditunaikan. Laporan penelitian, menulis buku teks, atau dan lain sebagainya, membutuhkan diksi yang agak formal. Sejak berkuliah, saya turut memberikan respons melalui tulisan-tulisan dengan bahasa populer di media masa. Dari aspek kemasan bahasa, model ini bisa lebih menjangkau banyak audiens ketimbang tulisan formal yang pembacanya terbatas pada komunitas akademik saja. Hasil dari apa yang biasanya kami kerjakan di ELSA, kerap saya bungkus melalui tulisan-tulisan dengan genre tersebut untuk dipublikasikan, baik di media massa maupun media komunitas.

Pada tahun 2000-an, dimulailah era pertumbuhan media dan semakin menemukan bentuknya pada 2010-an yang ditandai oleh lahirnya berbagai jenis platform media sosial. Rupanya, itu menggelitik saya untuk menghasilkan tulisan yang berbeda dengan dua jenis tulisan di atas, yakni mengabadikan pengalaman-pengalaman personal dan dipublikasikan melalui media sosial.

Sebagai guratan yang bersifat personal, spektrum temanya menjadi lebih luas; bisa berkaitan dengan pekerjaan, pertemanan, keluarga dan lain sebagainya. Hal-hal yang berkaitan dengan kehilangan, pencapaian, dan seterusnya bisa diselamatkan.

Gaya bertuturnya pun menjadi sangat berbeda. Nadanya santai dan cenderung introspektif serta kerap menghadirkan percakapan langsung yang akrab. Karena fleksibel, ia bisa sangat ringan, kocak atau bisa juga amat serius dan juga filosofis. Sesekali, menggunakan instrument sastra seperti imajinasi yang kuat, metafora, atau dialog untuk membuat variasi bacaan.

Setiap kalimat yang dihadirkan, menjadi sangat personal sifatnya; entah ketika tulisan itu dikemas secara deskriptif (berporos pada detil dan penggambaran situasi), naratif (fokus pada jalan cerita) atau gabungan keduanya.

Selain tetap menulis untuk kepentingan akademik (jurnal ilmiah) atau publikasi di media masa, saya menggumuli atau mulai menghadirkan esai-esai personal ini. Esai personal, demikian jika frasa ini pas digunakan, merupakan jenis tulisan yang poros utamanya adalah pengalaman pribadi. Apa yang dialami itu kemudian ditautkan dengan ide-ide besar (kemanusiaan, solidaritas, kejujuran dan seterusnya), dan dihadirkan kepada pembaca.

Dalam beberapa tulisan, saya membiarkan cerita itu mencari kakinya sendiri tanpa harus secara subjektif dihubungkan dengan ide tertentu. Bahkan, banyak cerita konyol atau lucu yang dialami oleh teman atau saya sendiri, lalu dinarasikan. Akhirnya tak hanya saya yang menikmati ceritanya di kemudian hari, tetapi teman saya yang menjadi pelaku cerita pun bisa menyelamatkan memorinya.

Jika saya memberikan penjelasan kalau alasan menulis adalah untuk “memanjangkan ingatan,” maka untuk esai-esai personal itulah jawaban dimaksudkan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top