Homo Scribus

Seseorang yang menganggap penting sebuah momen, peristiwa, atau hal lain dalam rupa material, akan sebisa mungkin berusaha mengabadikannya dengan berbagai cara serta media. Membuat catatan-catatan kecil, mengambil gambar atau langkah lainnya. Tak sekadar dimaterialisasi atau diwujudkan dalam tulisan serta gambar, kelompok tertentu berupaya mengabadikan momen itu melalui ingatannya lalu ditularkan secara oral kepada orang lain. Dan begitu seterusnya.

Dengan alat yang semakin canggih, medium untuk mengabadikan peristiwa menjadi lebih variatif. Jika sudah banyak cara untuk melestarikan ingatan, maka detil-detil momen bisa lebih banyak diselamatkan. Jika tidak terkejar membuat narasi, setidaknya ada kata-kata kunci yang diselamatkan.

Pada dasarnya semua dari kita merasa bahwa ada peristiwa berharga yang pernah dilewati. Saya selalu berpegang pada premis bahwa kita sendiri yang membuat peristiwa itu berharga atau tidak. Kita yang memiliki kendali atas peristiwa, momen, bangunan atau dokumen tertentu. Menjadi berharga atau tidak, kita yang menentukannya, kita yang memutuskannya, kita yang menyimpulkannya.

Manusia adalah makhluk yang menulis, Homo Scribus (dari kata scribere; menulis). Menulis itu bukan pekerjaan yang mesti digapai sebagai cita-cita. Manusia terlahir sebagai penulis. Tak ada cara terbaik untuk membuat tulisan yang baik, kecuali menulis dan terus menulis sebaik-baiknya.

Kita tentu perlu membaca untuk menambah perspektif sekaligus memperlebar horison. Namun, membaca bukan satu-satunya sumber. Inspirasi tulisan bisa berasal dari mana saja, termasuk iringan semut yang lewat di depan mata.

Kata Pramoedya Anantatoer, menulis adalah sebuah keberanian. Tulisan dalam bentuk apa saja, bagaimanapun orang menilainya, ia tetaplah karya yang lahir dari seorang yang berani mengguratkan penanya. Sebuah karya lahir dari pikiran yang bekerja. Sebagai Homo Scribus, seseorang telah menjaga kesehatan pikirannya dengan menulis.

Seorang yang menulis tak perlu khawatir jika tulisannya tak dibaca atau diapresiasi orang lain, karena, tulisan itu sendiri yang akan mencari pembacanya. Kakinya akan berjalan untuk sampai pada audiens, tak perlu dituntun.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top