Peta diperlukan bagi seorang yang hendak melakukan perjalanan. Bentuk peta bervariasi sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan zaman. Mulai dari peta yang tersaji dalam bentuk kertas hingga digital map yang tak hanya berisi gambar tetapi juga suara untuk memandu. Kecanggihan teknologi menyajikan peta yang semakin memudahkan mereka yang butuh panduan.
Teori itu ibarat peta. Fungsi dasarnya adalah penunjuk jalan. Orang lain yang telah melakukan perjalanan terlebih dahulu menyusun peta sebagai panduan bagi pejalan-pejalan berikutnya. Dalam penelitian atau pembelajaran pada umumnya, teori adalah sumber hipotesis untuk panduan dalam mengumpulkan data sehingga menjadi informasi. Ia sebentuk kerangka kerja yang membantu seseorang untuk mengenali lapangan.
Ketika peta sudah ada dalam genggaman, maka perjalanan menjadi lebih mungkin dilakukan. Perjalanan merupakan pengalaman yang dilewati dan memungkinkan seseorang untuk melakukan eksplorasi dalam bentuk apapun. Perkara-perkara detil akan sangat mungkin ditemukan ketika seseorang terjun melihat dan mencermati realitas.
Dengan mengamati dan mendekatkan diri pada kenyataan, kita mengerti, ada hal yang perlu diperbaiki, diganti, dipertahankan atau ditingkatkan. Peta membantu mengenali situasi di satu sisi, tetapi, di sisi lain, bukan tak mungkin ada keadaan yang tak selalu bisa dijelaskan semata-mata secara teoritik atau konseptual. Di sini, ada kesempatan bagi kita untuk membangun opini berbeda dengan landasan awal (baca: teori) yang menjadi pegangan.
Dalam peta, jarak Kota A ke Kota B 10 kilometer. Tetapi, faktanya jarak itu tak sama persis, bisa kurang bisa lebih. Ada tanjakan, jalan berkelok, yang ketika dikonversi, berpotensi menambah jauh jarak. Begitulah sifat dari peta, tak akan benar-benar menunjukkan situasi sesungguhnya di lapangan. Tetapi, sebagai panduan sangat dibutuhkan bagi mereka yang baru mengenali sebuah tempat atau komunitas.
Teori dan pengalaman, peta dan perjalanan adalah dua hal yang saling menggenapi sekaligus mengonfirmasi. Seseorang yang sangat berpengalaman melakukan perjalanan bisa saja tak memerlukan peta karena saking pahamnya situasi yang ia kenali. Justru ia yang semestinya menghasilkan peta untuk menjadi acuan bagi yang lain.
Kalau teori itu bisa diibaratkan sebagai peta, perjalanan yang dilakukan hadir sebagai sebuah pengalaman, maka ujung dari semuanya adalah pengetahuan.
