Ketika sedang diserbu kemalasan, dan kebetulan libur berpetualang, tidur setelah subuh adalah aktivitas terindah hingga kemudian mentari terbit. Bangun dari tidur edisi kedua, mata benar-benar terasa segar.
Tiap hari, saat mengantar Najma pergi sekolah, saya mendapati beberapa petugas keamanan sedang apel pagi sebelum kantor buka. Pemandangan yang sama juga didapati ketika melewati beberapa kantor kepolisian yang anggotanya sedang melaksanakan upacara. Dengan seragam yang dikenakan, mereka ada dalam barisan rapi yang siap menerima arahan pimpinan.
Meski terlihat gagah, tapi kebermanfaatan para sekuriti atau aparat keamanan itu bukan ketika mereka melaksanakan upacara dan ada dalam barisan. Aparat keamanan diangkat sebagai alat negara untuk memberikan perlindungan dan rasa aman kepada warga negara. Di jalan raya, mereka dibutuhkan agar lalu lintas berjalan tertib dan lancar.
Para sivitas akademika, terutama para dosen, juga demikian. Mereka seperti terlihat “berwibawa” saat berada di balik meja sebuah kantor dekanat atau rektorat. Tetapi, mereka tidak diangkat untuk itu. Kehadirannya justru terasa ketika sedang berdialektika tentang pengetahuan, atau melakukan pengabdian. Mengajar (termasuk meneliti) dan mengabdi kepada masyarakat, ada dalam satu tarikan nafas.
Saya membaca sebuah kutipan yang muncul secara tidak sengaja dan berseliweran di beranda media sosial. Kutipan tersebut dinisbatkan pada Albert Einstein, John A. Shedd dan Benazir Bhutto.
Di dermaga, kita melihat bagaimana indahnya kapal ketika bersandar. Ketika malam datang, lampu-lampu kapal terlihat menyilaukan dan gemerlap cahanya bersahutan dengan terang bulang. Tak hanya indah, tetapi kapal tersebut juga bisa terhindar dari gelombang air laut yang besar.
Kapal, betapapun terlihat cantik dan indah ketika bertambat di dermaga, ia tidak diciptakan untuk itu. Kapal dibuat untuk menghajar gelombang dan membelah lautan. Betapapun di dermaga kapal dalam keadaan aman, tetapi bukan untuk itu alat transportasi tersebut dibuat (A ship in port is safe, but that is not what ships are built for). Kapal justru dirasakan kebermanfaatannya ketika menaklukan gelombang, melewati samudera dan berhenti sejenak di dermaga untuk kemudian kembali berjalan.
