Menulis adalah Proses Manusia

Seorang pengajar dan doktor dalam bidang Sastra Hispanik, Victoria Livingstone, berhenti memberikan kuliah pada musim gugur ini. Managing editor di Jurnal MLN (Modern Language Notes) milik John Hopkins University tersebut mengatakan keputusannya itu sebagian besar dilatari oleh penggunaan large language models (LLM) seperti ChatGPT.

Livingstone menyaksikan praktik yang tidak produktif di ruang kelas. Artificial Intelligent (AI) membuat segalanya menjadi mudah. Mahasiswa tinggal meminta perangkat itu bergerak sesuai dengan permintaannya, dan, dalam hitungan menit, keluarlah apa yang diminta. Mereka tinggal memasukkan satu kalimat sebagai kunci, AI kemudian menyediaknnya dalam rupa yang sangat lengkap. Awalnya manusia bermimpi untuk menguasai teknologi, yang terjadi justru sebaliknya, manusia yang dikuasai teknologi.

Pendidik terbaik, kata Livingstone, akan beradaptasi dengan AI. Perubahannya, dan ketika mampu mengendalikan dengan baik, tentu akan mengarah pada sesuatu yang positif. Teknologi akan memperkokoh serta memperkuat manusia, bukan sebaliknya. Tetapi, kondisi yang sekarang dihadapi, justru mengarah pada dehumanisasi, terutama di dunia pendidikan. Ketika mengoreksi paper, tulis Livingstone, ia sebenarnya tidak sedang memperbaiki tugas mahasiswa, tetapi pekerjaan AI.

Menulis itu tak hanya menuangkan kata, tetapi juga tentang mengalirkan energi. Karakter, keunikan atau gagasan seorang individu bisa terbaca, salah satunya, melalui tulisan. Menulis adalah proses manusia. Kelahirannya berasal dari rahim manusia yang selaras dengan jiwa kemanusiaannya. Teknologi membantu manusia, bukan menggantikannya.

Menulis itu merasakan. Ketika AI menulis, teknologi ini tak menggunakan (perasaan) itu. Kita tidak bisa menemukan diri kita dalam tulisan yang dibuat. Kita, dan apa yang kita tulis, menjadi dua entitas yang berjarak, bahkan mungkin tak saling mengenal. Tulisan itu, pelan-pelan mengalienasi diri, dan kita sebenarnya dengan sadar mengalienasi dari apa yang kita produksi. Tulisan itu bukan kita, ia menjadi “makhluk” yang otonom.

“Menulis itu bukan sekadar menyalin pemikiran yang sudah sepenuhnya hadir secara sadar di benak penulis," kata Lynn Hunt, profesor sejarah di University of California Los Angeles. Lebih dari itu, terang Hunt, menulis itu menstimulasi orang untuk melahirkan pikiran-pikiran baru. Jadi, menulis dilakukan bukan karena ada pikiran yang mengendap di kepala kemudian dituangkan, tetapi pekerjaan (menulis) itu sendiri memantik lahirnya pikiran-pikiran baru.

Saat memutuskan untuk menggurat satu huruf, kita sedang memulai menyalakan otak, dan oleh karena itu, imbuh Hunt, “membangkitkan pikiran sadar kita, dan sesuatu yang baru muncul.” Belajar menulis dengan baik adalah usaha yang harus dilakukan sepanjang hidup manusia. Karenanya, pungkas Hunt dalam tulisannya, “seseorang tidak dilahirkan sebagai penulis, tetapi menjadi penulis.”

Bahan Bacaan

https://time.com/7026050/chatgpt-quit-teaching-ai-essay
https://www.historians.org/.../how-writing-leads-to...

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top