Senin (16/12/24) bersama beberapa teman pelaksana program di ELSA, saya melakukan perjalanan ke ibukota untuk sebuah kegiatan. Kami tiba di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) kurang lebih pukul 08.00 WIB. Sebagian dari kami ternyata belum sempat sarapan, karena harus berangkat dari rumah sekira pukul 5 pagi hari. Saya sendiri, karena dibawakan oleh Meiga, menyempatkan sarapan terlebih dahulu di Bandara Semarang, lalu dilanjutkan di Bandara Soetta.
Panitia baru menyediakan makan pada siang hari. Karenanya, teman-teman yang belum sempat sarapan mengusulkan untuk terlebih dahulu sarapan sebelum sampai hotel. Mereka biasa melakukan hal tersebut jika perjalanan pagi. Namun, untuk mengirit harta, biasanya teman-teman tidak makan pagi di bandara. Ketahanan ekonomi akan sangat terpengaruh kalau memaksakan diri untuk makan pagi di sana.
Jarak dari bandara ke tempat kegiatan sebenarnya tak jauh-jauh amat, sekitar 20 kilometer saja. Melalui tol, waktu tempuh menjadi lebih cepat. Lebih kurang 30 menit saja kami bisa sampai di tempat kegiatan dengan mobil yang kami sewa melalui aplikasi. Menahan 30 menit, sebenarnya sangat mungkin bisa dilakukan.
Di penginapan yang menjadi tempat kegiatan, memang jauh dengan warung atau ruko dimana rumah makan ada. Tetapi ada dua warung waralaba yang menyediakan makan dengan harga terjangkau di lingkungan hotel. Sehingga, dengan budget alakadarnya, masih bisa sarapan di hotel, meski nasinya dari warung.
Tapi, teman-teman biasanya memprioritaskan untuk makan pagi sebelum masuk daerah hotel, bukan di waralaba di lingkungan hotel itu. Mengapa?
Sesaat sebelum keluar dari pintu tol, kami biasa agak sedikit meminta kepada Pak Sopir.
“Pak, kalau kita sarapan dulu di warung depan, bagaimana?” begitu biasanya kami memulai pengajuan. Sejauh ini, tak pernah ada penolakan. Pak Sopir kami ajak untuk turut sarapan bersama. Saya, karena tak terbiasa makan (nasi) pagi, biasanya hanya memesan kopi atau minuman lain untuk menemani teman-teman yang lahap menghantam sarapan. Tentu saja ada sedikit tips untuk Pak Sopir yang tak hanya mengantarkan kami, tetapi juga menemani sarapan.
Pilihan untuk makan di tengah perjalanan, poinnya, bukan hanya tentang mengunyah makanan lalu ditelan, tetapi bisa duduk bersama dan berbagi cerita dengan mereka yang sama-sama sedang berjuang mencari nafkah, laiknya kami. Itulah mengapa, jika harus memilih, maka hal ini akan diutamakan.
Entah darimana kutipan ini berasal, tapi saya ingat satu pepatah atau quote; letak kekayaan itu bukan pada apa yang dimiliki tetapi yang dibagikan.
